BTemplates.com

Diberdayakan oleh Blogger.

Tampilkan postingan dengan label Rutinan Ziarah Wali sanga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rutinan Ziarah Wali sanga. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Mei 2017

Uluk salam ketika masuk makam .


UCAPAN SALAM SECARA UMUM DIBACA KETIKA MASUK MAKAM

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ يَآ أَهْلَ الْقُبُوْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ أَنْتـُمْ لَنَا سَلَفٌ وَنَحْنُ لَكُمْ تَبَعٌ وَاِنَّا اِنْ شَآءَ اللهُ بِكُمْ لَاحِقُوْنَ . اَللّهُمَّ رَبَّ اْلاَجْسَادِ الْبَلِيَّةِ وَالْعِظَامِ النَّخِرَةِ الَّتِى خَرَجَتْ مِنَ الدُّنْيَا وَهِىَ بِكَ مُؤْمِنَةٌ أَدْخِلْ عَلَيْهَا رَوْحًا مِنْ عِنْدِكَ وَسَلَامًا مِنِّى بِرَحْمَتِكَ يَآ اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

UCAPAN SALAM KHUSUS DAN TAWASUL


اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ يَا وَلِيَّ اللهِ اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ يَا شَيْخ ......... جِئْنَاكُـمْ زَآئِرِيْنَ وَعَلَى مَقَامِكُـمْ وَاقِفِيْنَ وَلَاتَرُدُّوْنَا خَآئِبِيْنَ أَسْتَوْدِعُكُـمْ شَهَادَتِى أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ . اَللّهُمَّ اِنِّى اَتَوَسَّلُ اِلَيْكَ بِوَلِيِّكَ صَاحِبِ هٰذَا الْمَقَامِ بِحُرْمَةِ جَمَالِكَ الْبَاقِى وَوُجْدِكَ اْلأَعْظَمِ وَبِحُرْمَةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تَقْضِيَ حَاجَاتِى .......... يَا اَللهُ يَا رَبِّ أٰتِنَا مَا سَأَلْتُكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

Senin, 08 Mei 2017

Ziarah Wali sanga


Makam Walisongo terbagi dalam tiga provinsi di Pulau Jawa. Misalnya jika ziarah Wali Songo kamu pilih dari arah timur ke barat. Tujuan yang harus ditempuh adalah dari Jawa Timur yang dimulai dengan Makam Sunan Ampel – Makam Sunan Gresik – Makam Sunan Giri – Makam Sunan Drajat – dan Makam Sunan Bonang. Masuk ke Propinsi Jawa Tengah, kamu bisa mengunjungi Makam Sunan Kudus – Makam Sunan Muria – dan Makam Sunan Kalijaga. Sedangkan yang terakhir di Propinsi Jawa Barat adalah Makam Sunan Gunung Jati.
Jadi, kalau diurutkan lagi dari kota pertama yang menjadi titik start ziarah Wali Songo akan dimulai dari Kota Surabaya – Gresik – Lamongan – Tuban – Kudus – Demak – dan yang terakhir di Cirebon.

Kamis, 04 Mei 2017

Panjalu, Berziarah dan wisata alami yang indah.


Ziarah ke Panjalu
Makam Prabu Hariang Kancana atau Mbah Panjalu merupakan tempat peristirahatan terbaik yang bisa diperoleh seorang penyiar awal agama Islam, Pasundan. Bayangkan saja, jasadnya tertanam di pulau kecil bernama Nusa Gede. Penuh rerimbunan pohon tinggi yang digelayuti ratusan kelelawar di atasnya. Pemandangan semakin teduh oleh Situ Lengkong  yang mengelilingi pulau atau sering juga disebut Nusa Larangan ini. Air situ yang menurut babad Panjalu berasal dari mata air zam-zam di Mekah berwarna kehijauan bak  zambrud. Lalu dipagar oleh bukit Pasir Jambu di sekeliling.
Situ Lengkong Panjalu
Untuk sampai ke makam putera dari Prabu Sanghyang Cakradewa (Raja Panjalu pertama beragama Islam), wisatawan dan peziarah menyeberang dari daratan Panjalu Ciamis. Menggunakan perahu kayuh atau bermotor. Dalam satu minggu alat transportasi ini bergiliran beroperasi. Tiba giliran perahu motor, perahu kayuh  bersandar di dermaga.
Peziarah Menunggu Giliran Diseberangkan
Nusa Gede berada tepat di tengah Situ Lengkong. Jadi perahu akan mengantar pengunjung dengan memutari pulau seluas 16.5 HA itu searah jarum jam. Dengan kata lain jalur pergi dan pulang  tidak sama.
situ lengkong panjaluSepanjang perjalanan di bekas pusat kerajaan Panjalu ini mata dihibur berbagai atraksi alam. View ke perkampungan berlatar belakang perbukitan Pasir Jambu dan persawahan. Genteng rumah penduduk yang saling bertumpuk dan tampak monoton dihentikan  sebuah kubah Masjid. Kala telinga mendengar kecipak dayung menghantam air, mata memandang kelelawar bergantung di pohon, seluruh syaraf berteriak bahagia. Maklum jumlah kelelawarnya banyak sekali. Ada pula yang terbang saling silang dengan burung seperti sedang menari.  Para kelelawar itu konon penjelmaan prajurit Kerajaan Panjalu yang bersumpah setia menjaga makam Sang Junjungan, Prabu Kancana Hariang atau Mbah Panjalu.
kelelawar situ lengkong panjalu
Kelelawar yang sedang tidur
Sementara di tepi Situ Lengkong sendiri terlihat aneka tanaman. Ada pakis yang pucuknya melebar seperti centong. Menurut legenda pakis ini berasal dari centong yang digunakan saat membawa air zaman-zaman dari Mekah. Sementara teratai yang sedang berbunga mencuat di permukaan air. Warna yang merah jambu,  kontras dengan warna hijau sekitar serta beberapa pemancing yang duduk hening di perahu masing-masing. Tadinya mereka tak tampak karena terhalang semak yang menjuntai ke bibir situ. Tak sampai 10 menit kita pun tiba di dermaga Nusa Gede

Daerah Tujuan Ziarah

Setiap bulan Maulud makam Prabu Hariang Kancana atau Mbah Panjalu dipadati oleh ribuan pengunjung. Datang dari berbagai tempat di Indonesia. Ada yang berziarah,  ada pula yang sekedar berwisata. Memang tempat ini sangat menarik untuk foto landscape. Ditambah  lagi  aneka satwa serta tanaman yang terdapat di sana. Maklum semasa pemerintahan Belanda tempat ini ditetap sebagai suaka alam yang dilindungi oleh undang-undang.
makam prabu hariang kancana atau mbah panjalu
Gapura dengan Patung Naga Diatasnya
Naik ke dermaga kita di sambut gapura hijau yang diapit oleh dua prasasti berbahasa Sunda. Diatasnya duduk sepasang naga. Di bawah diapit pula patung harimau kembar. Dua jenis fauna ini terkait dengan mitos sejarah kerajaan Panjalu.
Menuju makam harus melewati anak tangga yang cukup tinggi yang membuat  napas ngos-ngosan. Tangga itu berserta sarana lain dibangun semasa pemerintahan Gus Dur. Sebelum itu konon Makam Prabu Hariang Kancana atau Mbah Panjalu belum seramai sekarang.
makam prabu hariang kancana
Anak tangganya lumayan bikin ngos-ngosan
Sampai di ujung anak tangga rupanya sudah penuh manusia. Maklum bulan Maulud. Saya tidak bisa masuk ke teras makam karena sudah sesak. Kami mengambil tempat di gazebo yang terletak di depan makam. Tak lama gazebo itu pun penuh oleh rombongan anak sekolah dari Madura. Sungguh kagum melihat ketakziman mereka berdoa. Yah  saat itu saya sudah terperangaruh aura mistis tempat itu. Ditambah lagi dengung doa dan salawat yang tak putus-putus dari berbagai arah, cahaya matahari yang samar karena rimbunnya pepohonan, bohong saja kalau seluruh bulu di kulit tak merinding.
makam prabu hariang kancana atau mbah panjalu
khusu’ Berdoa
Terus mulai deh imajinasi mengambil alih. Bagaimana jika ziarah ini dilakukan malam hari?  Tak ada listrik,  gelap gulita, plus suara-suara dari fauna malam. Sebelum pingsan oleh pikiran sendiri  saya cepat  berdiri untuk mengelilingi tempat itu.

Barokah dan Mustajabnya do'a dimakam Wali



  • Al-Imam asy-Syafi'i (wafat 204 H). Beliau bertabarruk di makam Imam Abu Hanifah ketika menghadapi kesulitan. Berikut riwayat yg disampaikan oleh al-Hafizh al-Khothib al-Bahgdadi:

“Telah mengabarkan kepada kami al-Qodli Abu ‘Abdillah al-Husain bin ‘Ali bin Muhammad ash-Shoimari, ia berkata: “Telah memberitakan kepada kami ‘Umar bin Ibrohim al-Muqri’, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Mukarrom bin Ahmad, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami ‘Umar bin Ishaq bin Ibrohim, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami ‘Ali bin Maimuun, ia berkata: “Aku mendengar Imam asy-Syafi’i berkata: “Sesungguhnya aku benar2 ber-tabarruk dengan Imam Abu Hanifah. Aku datang ke kuburnya setiap hari, yakni untuk berziarah. Apabila aku mempunyai suatu hajat (keperluan), aku pun sholat dua roka’at lalu datang ke kuburnya untuk berdoa kepada Allah Ta’ala untuk hajat tersebut di sisinya. Maka tidak lama setelah itu, hajatku pun terpenuhi.” (Tarikh Baghdad lil Khothib al-Baghdadi, 1/445)

Di lain tempat, Imam asy-Syafi'i berkata:


قبر موسى الكاظم الترياق المجرب

“Kuburan Musa al-Kazhim adalah tiryaq (obat) yang mujarab (tempat terkabulnya doa).”
(Tuhfah al-Alim, 2/22)

  • Al-Imam Ahmad bin Hanbal (wafat 241 H)


و احمد ممن يجوز السفر لزيارة قبور الانبياء و الصالحين كابي حامد الغزالي و ابي حسن بن عبدوس الحراني و ابي محمد بن قدامة المقدسي

“Imam Ahmad adalah termasuk ulama yg memperbolehkan perjalanan ke makam2 Nabi dan org sholeh, seperti Abu Hamid al-Ghozali (Imam al-Ghozali), Abu Hasan bin 'Ibdus al-Harroni, dan Abu Muhammad Ibnu Qudamah al-Maqdisi (Imam Ibnu Qudamah).”
(Al-'Uqud ad-Durriyyah li Ibni 'Abdil Hadi, 1/349)

Seandainya berziarah ke makam para nabi dan sholihin ('ulama dan auliya') merupakan kesyirikan, maka tentu Imam Ahmad akan melarangnya jauh2 hari, bukan malah memperbolehkan.

Di kitabnya sendiri, Imam Ahmad bin Hanbal berkata:


“Aku (‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal) pernah bertanya kepadanya (Imam Ahmad) tentang seseorang yang mengusap mimbar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan bertabarruk dengan usapannya itu, serta menciumnya. Dan ia melakukan hal yang serupa terhadap kubur beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam atau yang semisal dengan ini, yang dimaksudkan dengan perbuatannya itu untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah ‘azza wa jalla ??’. Ia (Imam Ahmad) menjawab : ‘Tidak mengapa dengan hal itu’. ”
(Al-’Ilal wa Ma’rifatir Rijal lil Imam Ahmad, 2/492)

  • Al-Imam al-Bukhori (wafat 256 H) bertabarruk di makam Rosulullah Saw saat mengarang kitab:


قال فلما طعنت فى ثماني عشرة و صنفت كتاب قضايا الصاحبة و التابعين ثم صنفت التاريخ في مدينة عند قبر النبي صلى الله عليه و سلم و كنت اكتبه فى الليالى المقمرة

“Al-Imam al-Bukhori berkata: “Ketika aku menginjak usia 18 tahun, aku mengarang kitab himpunan nama2 shohabat dan tabi’in. Kemudian aku mengarang kitab “at-Tarikh” di Madinah, di sisi kubur Nabi Saw, dan aku menulisnya di malam2 purnama.”
(Fat-hul Bari lil Hafizh Ibni Hajar al-'Asqolani, 1/478)

Mengapa Imam Bukhori capek2 datang ke makam Rosul Saw untuk mengarang kitab ? Bukan kah di rumah lebih enak dan nyaman ?
Tentu barokahlah yg beliau harapkan di sisi kubur Nabi Saw. Perlu diingat pula bahwa mengarang kitab adalah ibadah yg sangat besar !!

  • Al-Imam Ibrohim al-Harbi (wafat 285 H), seorang ulama yg sifat zuhud dan keilmuannya sering diserupakan dg Imam Ahmad bin Hanbal.

“Telah mengkabarkan kepada kami Isma’il bin Ahmad al-Hairi, ia berkata: Telah mengkabarkan kepada kami Muhammad bin al-Husain as-Sulami, ia berkata: Aku mendengar Abul Hasan bin Miqsam berkata: Aku mendengar Abu ‘Ali ash-Shaffar berkata: Aku mendengar Ibrohim al-Harbi berkata: “Kuburan Ma’ruf al-Karkhi adalah tiryaq (obat) yang mujarrab.” ” (Tarikh Baghdad lil Khothib al-Baghdadi, 1/445)

Makna “tiryaq” adalah:


والترياق هو دواء مركب معروف عند الأطباء القدامى بكثرة منافعه, وقد شبه الحافظ الحربي قبر معروف بالترياق في كثرة الانتفاع به فكأنه يقول :أيها الناس إقصدوا قبر
معروف تبركا به من كثرة منافعه .


Tiryaq adalah obat yang diracik dari berbagai bahan yang dikenal di kalangan para tabib masa lalu karena banyaknya manfaatnya dan banyak macamnya. Ibrohim al-Harbi menyerupakan makam Ma’ruf al-Karkhi dengan obat dalam banyaknya manfaat, maka seolah-olah Ibrohim al-Harbi berkata : “Wahai manusia, datanglah ke kuburan Ma’ruf al-Karkhi dengan bertabarruk karena banyaknya manfaat yang akan diperoleh”. (Tarikh Baghdad, 1/122) 

  • Al-Imam Ibnu Khuzaimah (wafat 311 H), pengarang kitab Shohih Ibnu Khuzaimah. Beliau bertabarruk dan berdoa di makam 'Ali bin Musa ar-Ridlo:



“Imam al-Hakim berkata dalam kitab Tarikh Naisabur: “Aku mendengar Abu Bakar Muhammad bin al-Mu'ammil bin Hasan bin 'Isa berkata: “Kami keluar bersama Imam ahli hadits Abu Bakar Ibnu Khuzaimah dan sahabatnya, Abu 'Ali ats-Tsaqofi, beserta jama'ah dari guru2 kami. Mereka semua berdatangan ziarah ke makam 'Ali bin Musa ar-Ridlo di Thus. Aku melihat ke-ta'zhim-an (pengagungan) Ibnu Khuzaimah terhadap makam tsb dan ketawadlu'annya, serta ke-tadlorru'-annya (permohonannya yg sangat khusyu') di makam tsb, hingga membuat kami bingung.” (Tahdzibut Tahdzib lil Hafizh Ibni Hajar, 3/195)

Barangkali yg ingin tahu, siapakah Abu 'Ali ats-Tsaqofi, sahabat Imam Ibnu Khuzaimah itu ? Dia adalah:


“Dia adalah al-Imam al-Muhaddits al-Faqih al-'Allamah az-Zahid al-'Abid, syaikh negeri Khurosan, Abu 'Ali Muhammad bin Abdul Wahab bin Abdurrohman ats-Tsaqofi an-Naisaburi asy-Syafi'i, al-Wa'izh. Lahir tahun 244 H dan wafat tahun 324 H.” (Siyar A'lam an-Nubala' lil Hafizh adz-Dzahabi, 15/280)

  • Al-Imam Abu ‘Abdillah bin al-Mahamili (wafat 330 H)



“Telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘Ali bin ‘Abdillah as-Shuri, ia berkata “aku mendengar Abul Husain Muhammad bin Ahmad bin Jumai’ berkata “aku mendengar Abu Abdillah bin al-Mahamili berkata: “Aku mengetahui kubur Ma’ruf al-Karkhi selama tujuh puluh tahun. Tidaklah seorang yang sedang mengalami kesusahan kemudian mendatangi kuburnya, kecuali Allah akan melapangkan kesusahannya.”
(Tarikh Baghdad lil Khothib al-Baghdadi, 1/445)

  • Al-Imam Ibnu Hibban (wafat 354 H), penulis kitab Shohih Ibnu Hibban. Beliau bertabarruk di makam 'Ali bin Musa ar-Ridlo ketika sedang ditimpa kesulitan:


“Ali bin Musa ar-Ridlo. Ia wafat di Thus karena meminum racun yg diberikan oleh Kholifah al-Ma’mun dan wafat seketika itu juga. Itu terjadi di hari Sabtu tahun 203 H. Makamnya berada di Sanabadz, sebelah luar Nauqan, sudah masyhur dan diziarahi, letaknya di dekat makam ar-Rasyid. Aku sudah sering berziarah berkali-kali. Tidaklah aku mengalami kesulitan ketika aku berada di Thus lalu aku berziarah ke makam 'Ali bin Musa ar-Ridlo sholawatullahi 'ala jaddihi wa 'alaih dan aku berdoa kepada Allah untuk menghilangkan kesulitan tersebut, kecuali dikabulkan untukku, dan kesulitan itu pun lenyap dari ku. Ini aku alami berkali-kali dan aku selalu menemukannya seperti itu. Semoga Allah mematikan kita dalam kecintaan terhadap Rosulullah dan ahlul baitnya shollallahu alaihi wa 'alaihim ajma'in.” (Ats-Tsiqot lil Imam Ibni Hibban, 3/456)

Semua ulama di atas adalah ulama2 salaf (hidup dalam 3 abad Hijriyyah pertama). Dari sini, qta dapat mengetahui bahwa amalan bertabarruk dan berdoa di makam org sholeh merupakan amalan para ulama salaf.
Pertanyaan: apakah mereka tidak lebih mengerti tentang tauhid dan syirik daripada org2 Wahabi ?? apakah mereka juga akan dicap sebagai 'Ubbadul Qubur (para penyembah kubur) ?????

  • Al-Hafizh al-Khothib al-Bahgdadi (wafat 463 H). Bukan hanya menyebutkan berbagai kisah tabarruk di atas, beliau juga menyebutkan kisah tabarruk yg sangat menarik, yaitu oleh asy-Syaikh al-'Alim al-'Abid Ahmad bin al-'Abbas asy-Syami:

“Telah mengabarkan kepada kami Abu 'Abdirrohman Ahmad bin Isma'il al-Hiri adl-Dlorir, telah mengabarkan kepada kami Abu 'Abdirrohman Muhammad bin al-Husain as-Sulami di Naisabur, ia berkata: Aku mendengar Abu Bakar ar-Rozi berkata: Aku mendengar 'Abdullah bin Musa ath-Tholhi berkata: Aku mendengar Ahmad bin al-'Abbas berkata: “Aku hendak keluar dr Baghdad, kemudian berjumpa dg seorang laki2 yg ada tanda ibadahnya (seorang ahli ibadah), ia bertanya: “Dari mana anda?” Aku menjawab: “Aku keluar dr Baghdad, ingin kabur karena di Baghdad sedang ada kekacauan, aku khawatir penduduk Baghdad akan disiksa”. Kemudian ia berkata: “Kembalilah ! Jangan takut ! Karena di Baghdad ada 4 makam wali yg menjadi benteng mereka dari semua petaka”. Aku bertanya: “Siapa mereka ?” Ia menjawab: “Imam Ahmad bin Hanbal, Ma'ruf al-Karkhi, Bisyir al-Hafi, dan Manshur bin 'Ammar”. Kemudian aku pun kembali, berziarah ke makam2 tsb. Dan ternyata aku tidak keluar dr Baghdad pada tahun itu (karena aman).” (Tarikh Baghdad lil Khothib al-Baghdadi, 1/443)

  • Al-Hafizh Abu 'Ali al-Ghossani (wafat 498 H). Beliau menyebutkan kisah tabarruk yg sangat masyhur, yaitu kisah Istisqo'-nya Qodli Samarkandi di makam Imam Bukhori:


أخبرني أبو الحسن طاهر بن مفوز ابن عبد الله بن مفوز المعافري صاحبنا رحمه الله، قال: أخبرني أبو الفتح وأبو الليث نصر بن الحسن التنكتي المقيم بسمرقند –قدم عليهم بلنسية عام أربعة وستين وأربعمة- قال: قحط المطر عندنا بسمرقند في بعض الأعوام، قال: فاستسقى الناس مرارا فلم يسقوا، قال: فأتى رجل من الصالحين معروف بالصلاح مشهور به إلى قاضي سمرقند، فقال له: إني قد رأيت رأيا أعرضه عليك، قال: وما هو؟ قال: أرى أن تخرج ويخرج الناس معك إلى قبر الإمام محمد بن إسماعيل البخاري رحمه الله- وقبره بخرتنك، ونستسقي عنده، فعسى الله أن يسقينا، قال: فقال القاضي: نعما رأيت. فخرج القاضي وخرج الناس معه، واستسقى القاضي بالناس، وبكى الناس عند القبر، وتشفعوا بصاحبه، فأرسل الله تبارك وتعالى السماء بماء عظيم غزير أقام الناس من أجله بخرتنك سبعة أيام أو نحوها، لا يستطيع أحد الوصول إلى سمرقند من كثرة المطر وغزارته، وبين خرتنك وسمرقند ثلاثة أميال أو نحوها.

“Telah mengabarkan padaku Abul Hasan Thohir bin Mafuz Ibnu Abdillah bin Mafuz al-Mu’aafiri, shohib kami –semoga Allah merahmatinya- ia berkata, “Telah mengabarkan padaku Abul Fath dan Abu al-Laits Nashr bin al-Hasan at-Tankati yang bermukim di Samarqandi, ia datang pada mereka di Valencia (Spanyol) tahun 464 H. Selama beberapa tahun, hujan tidak turun pada kami di negeri Samarqandi. Orang-orang melakukan istisqo’ (shalat meminta hujan) beberapa kali, namun hujan tidak juga turun. Maka, seorang laki-laki sholih yang dikenal dengan kesholihannya mendatangi Qodli negeri Samarqandi. Ia berkata: “Sesungguhnya aku mempunyai satu pendapat yang hendak aku sampaikan kepadamu”. Qodli berkata: “Apa itu ?” Ia berkata: “Aku berpendapat agar engkau keluar bersama orang-orang menuju kubur al-Imam Muhammad bin Isma’il al-Bukhori. Makam beliau ada di Kharantak. Lalu kita melakukan istisqo’ di sisi kuburnya, semoga Allah menurunkan hujan kepada kita”. Qodli berkata : “Ya, aku setuju”.
Maka, sang Qodli pun keluar dan diikuti oleh orang-orang bersamanya. Qodli tersebut melakukan istisqo’  bersama orang-orang. Orang-orang menangis di sisi kubur dan meminta syafa’at kepada penghuni kubur (al-Imam al-Bukhori). Setelah itu, Allah Ta’ala mengutus awan yang membawa hujan sangat lebat. Orang-orang tinggal di Kharantak selama kurang lebih tujuh hari. Tidak seorang pun yang dapat pulang ke Samarqandi karena derasnya hujan yang turun. Jarak antara Kharantak dan Samarqandi sekitar tiga mil.” (Taqyid al-Muhmal wa Tamyiz al-Musykal lil Hafizh al-Ghossani, 1/44). Baca selengkapnya di: http://www.aswj-rg.com/2014/03/kesahihan-riwayat-bertabarruk-di-makam-imam-bukhari.html

  • Al-Hafizh Ibnu 'Asakir (wafat 571 H). Beliau mempunyai kitab yg sangat populer, yaitu Tarikh Dimasyq, sebuah kitab yg mengupas seluk beluk kota Damaskus yg penuh sejarah. Kitab ini merupakan kitab sejarah yg paling besar. Bagaimana tidak, kitab yg hanya menguraikan satu kota saja, dicetak sebanyak 80 jilid. Dalam kitab ini, beliau juga menyebutkan kisah yg sama dg al-Khothib al-Baghdadi, yaitu  kisah tabarruknya Ahmad bin al-'Abbas, pada juz 60 halaman 344.

  • Al-Imam al-Hafizh Abdul Haq al-Isybili (wafat 582 H)
“Dan ketahuilah bahwasannya makam2 org sholeh tidak sepi dari barokah. Sungguh org yg menziarahinya, mengucap salam kepadanya, membaca Quran di dekatnya, dan berdoa untuk org2 yg ada di dalamnya, maka tidak akan kembali kecuali dengan kebaikan dan membawa pahala.” (Al-’Aqibah fi Dzikril Maut lil Imam 'Abdil Haq al-Isybili, 1/163)

  • Al-Imam al-Hafizh Ibnul Jauzi (wafat 597 H)
“Hendaknya seseorang memiliki rutinitas ziarah ke makam2 org sholeh dan menyendiri di sana.” (Shoidul Khothir lil Hafizh Ibnil Jauzi, 1/418)

Dalam kitabnya yg lain ketika menyebutkan biografi Ma’ruf al-Karkhi:


“Ma’ruf al-Karkhi meriwayatkan hadits dari Bakr bin Khunais, Abdullah bin Musa, dan Ibnu as-Simak. Ia wafat pada 200 H. Kuburnya tampak nyata di Baghdad, yaitu tempat untuk bertabarruk. Ibrohim al-Harbi berkata: “Kubur Ma’ruf al-Karkhi adalah tiryaq (obat) yg mujarrab.”  (Shifatus Shofwah li Ibnil Jauzi, 2/324)

  • Al-Imam al-Hafizh al-Mu'arrikh Ibnul Atsir (wafat 606 H)


و قد قال بعضهم : كانت خلافته (علي بن ابي طا لب) خمس سنين الا ثلاثة اشهر و كان عمره ثلاثا و ستين سنة و لما قتل دفن عند مسجد الجماعة و قيل فى القصر و قيل غير ذلك و الاصح ان قبره هو الموضع الذى يزار و يتبرك به

“Sebagian ulama berkata: “Masa khilafah Ali bin Abi Tholib adalah 5 tahun kurang 3 bulan. Usianya 63 tahun. Setelah dibunuh, beliau dimakamkan di dekat masjid al-Jama’ah. Ada yg mengatakan di istana, dan lain sebagainya. Pendapat yg lebih shohih adalah makam beliau berada di tempat yg diziarahi dan dicari berkahnya.” (Al-Kamil fit Tarikh li Ibnil Atsir, 2/104)

  • Al-Imam an-Nawawi (wafat 676 H). Ketika menyebutkan biografi shohabat Tholhah, beliau berkata:


قتل طلحة رضي الله عنه يوم الجمل لعشر خلون من جمادى الاولى سنة ست و ثلاثين و هذا لا خلاف فيه و كان عمره اربعا و ستين سنة و قيل ثمانيا و خمسين و قيل اثنتين و ستين و قيل ستين و قبره بالبصرة مشهور يزار و يتبرك به

“Tholhah terbunuh saat perang Jamal pada 10 Jumadil Ula tahun 36 H. Dalam hal ini tak ada perbedaan pendapat. Umurnya adalah 64 tahun. Ada yg mengatakan 58 tahun, ada yg mengatakan 62 tahun, ada yg mengatakan 60 tahun. Kuburnya ada di Bashroh, masyhur, diziarahi, dan dicari berkahnya.” (Tahdzibul Asma’ wal Lughot lil Imam an-Nawawi, 1/344)

Ketika menyebutkan biografi shohabat Abu 'Ubaidah:


وقبر ابى عبيدة بغور بيسان عند قرية تسمى عمتا و على قبره من الجلالة ما هو لائق به و قد زرته فرايت عنده عجبا

“Makam Abu 'Ubaidah ada di Ghourbisan, di sebuah desa bernama 'Amtan. Di makamnya ada keagungan yg sesuai dengan dirinya. Sungguh aku sudah menziarahinya dan melihat keajaiban di makamnya.” (Tahdzibul Asma’ wal Lughot lil Imam an-Nawawi, 3/151)

Berikut ini qoul beliau yg disebutkan oleh al-Imam Tajuddin as-Subki ketika menguraikan biografi Syaikh Abul Fath Nashr al-Maqdisi:

“Syaikh Abul Fath Nashr wafat di hari Selasa, 9 Muharrom 490 H di Damaskus. Kaum muslimin membawa jenazahnya pada waktu Zhuhur tetapi mereka tidak bisa menguburkannya kecuali di waktu Maghrib karena banyaknya peziarah. Kuburnya diketahui terletak di Babus Shoghir, di bawah kubur Mu’awiyyah rodliyallahu ta’ala ‘anhu. Imam an-Nawawi berkata: “Aku mendengar dari para syaikh bahwa berdoa di makamnya di hari Sabtu adalah mustajab.” (Thobaqotus Syafi'iyyah al-Kubro li Tajiddin as-Subki, 5/253)

Qoul beliau tsb juga dikutip oleh al-Hafizh Ibnu Qodli Syuhbah dalam kitabnya yg berjudul sama:
“Syaikh Abul Fath Nashr wafat di hari ‘Asyuro tahun 490 H. Ia dikuburkan di Babus Shoghir. Kuburnya tampak nyata dan diziarahi. Imam an-Nawawi berkata: “Aku mendengar dari para syaikh bahwa berdoa di makamnya di hari Sabtu adalah mustajab.” Ia (Imam an-Nawawi) sering menyebutnya dalam kitab ar-Roudloh.” (Thobaqotus Syafi'iyyah li Ibni Qodli Syuhbah, 1/303)

  • Al-Imam al-Qodli Ibnu Kholkan (wafat 681 H). Ketika menguraikan biografi seorang raja yg masyhur dg keadilannya, Nuruddin Mahmud Zinki, beliau berkata:
 
“Ia lahir pada hari Ahad ketika matahari terbit, tanggal 17 Syawwal tahun 511 H dan wafat pada hari Rabu, 11 Syawwal 569 H di Qol’ah, Damaskus. Ia dikuburkan di sebuah rumah di Qol’ah. Di sana dilazimkan duduk (untuk berziarah) dan mabit (menginap). Kemudian jenazahnya dipindahkan ke tanah kelahirannya, di madrasahnya, yg ia dirikan di dekat Bab Sauq al-Khowashin. Aku (Ibnu Kholkan) mendengar segolongan ulama Damaskus berkata: “Berdoa di sisi makamnya adalah mustajab.” Sungguh aku sudah mencobanya sendiri dan ternyata BENAR!!! Semoga Allah merahmatinya.” (Wafiyyatul A’yan wa Anba’i Abna’iz Zaman li Ibni Kholkan, 5/187)

  • Al-Imam Ibnul Hajj al-‘Abdari (wafat 737 H)

Kalangan para ‘ulama besar dari Timur hingga Barat senantiasa bertabarruk dengan menziarahi kuburan para sholihin dan mereka selalu mendapatkan barokah dari hal tsb baik dirasakan secara langsung maupun tidak. Dan sungguh asy-Syaikh al-Imam Abu ‘Abdillah bin an-Nu’man rohimahullah telah menuturkan dalam kitabnya yg bernama “Safinatun Najah li Ahlil Iltija’ fi Karomati asy-Syaikh Abi Naja’” dalam pujiannya terhadap perkataan Syaikh Abi Naja’ tentang masalah ini: “Telah nyata bagi org yg memilki mata hati dan ahli mengambil pelajaran, bahwa sesungguhnya ziarah ke makam org2 sholeh adalah dicintai karena untuk mencari berkah dan mengambil pelajaran. Sebab berkah org2 sholeh tetap berjalan setelah wafatnya sebagaimana saat masa hidupnya.” (Al-Madkhol lil Imam Ibnil Hajj al-‘Abdari, 1/254)

Di bagian lain dari kitabnya, ia berkata:


“Sepatutnya bagi keluarga mayyit untuk memilihkan penguburannya di dekat kuburan para ‘ulama, para wali, dan org2 sholeh agar dapat bertabarruk dengan mereka ....” (Al-Madkhol li Ibnil Hajj al-‘Abdari, 3/258)

  • Al-Hafizh adz-Dzahabi (wafat 748 H). Beliau adalah ulama yg menjadi rujukan org2 Wahabi. Tapi ?? Ketika menyebutkan biografi Sholeh bin Yunus al-Wasithi, beliau berkata:

صالح بن يونس ابو شعيب الواسطى الزاهد كان من سادات الصوفية توفي سنة اثنتين و ثمانين و مائتين بالرملة و الدعاء عند قبره مستجاب

“Sholeh bin Yunus Abu Syu'aib al-Wasithi, seorang yg zuhud. Ia termasuk pemuka kaum shufi. Ia wafat pada 282 H di Romlah. Berdoa di dekat makamnya adalah mustajab.” (Tarikhul Islam lil Hafizh adz-Dzahabi, 5/198)

Di kitabnya yg lain ketika menyebutkan biografi Sholeh bin Ahmad al-Hamdzani:


صالح بن احمد ابن محمد الحافظ الكثير الصدق المعمر أبو الفضل التميمي الهمذانى ذكره شيرويه في تاريخه فقال: كان ركنا من اركان الحديث ثقة حافظا دينا لا يخاف في الله لومة لائم، وله مصنفات غزيرة، توفى في شعبان سنة اربع وثمانين وثلاث مائة. والدعاء عند قبره مستجاب


“Sholeh bin Ahmad bin Muhammad, al-Hafizh, org yg sangat jujur, Abu al-Fadhl at-Tamimi al-Hamdzani. Syirowaih menyebutkan dalam kitab Tarikhnya: “Ia adalah pondasi dari pondasi2 hadits, tsiqoh, hafizh, dan agamis. Ia tidak takut celaan orang lain dalam agama Allah. Ia mempunyai banyak sekali karya kitab. Ia wafat pada 384 H. Berdoa di makamnya adalah mustajab.” (Tadzkirotul Huffazh lil Hafizh adz-Dzahabi, 3/985)

Di kitabnya yg lain ketika menyebutkan biografi Ibnu La’al:


وابن لآل الإمام أبو بكر أحمد بن علي بن أحمد الهمذاني . قال شيرويه : كان ثقة أوحد زمانه مفتي همذان له مصنفات في علوم الحديث غير انه كان مشهورا بالفقه. عاش تسعين سنة والدعاء عند قبره مستجاب


“Al-Imam Ibnu La’al, Abu Bakar Ahmad bin Ali bin Ahmad al-Hamdzani. Syirowaih berkata: “Ia tsiqot, orang alim tunggal di masanya. Ia juga seorang Mufti negeri Hamdzan. Ia memiliki banyak karya dalam ilmu hadits. Ia juga masyhur dengan ilmu fiqih. Ia berumur 90 tahun. Berdoa di sisi makamnya adalah mustajab.” (Al-‘Ibar lil Hafizh adz-Dzahabi, hal. 175)

Di kitabnya yg lain ketika menyebutkan biografi Ma’ruf al-Karkhi:


وعن إبراهيم الحربي قال: قبر معروف الترياق المجرب
يريد إجابة دعاء المضطر عنده لان البقاع المباركة يستجاب عندها الدعاء، كما أن الدعاء في السحر مرجو، ودبر المكتوبات، وفي المساجد، بل دعاء المضطر مجاب في أي مكان اتفق، اللهم إني مضطر إلى العفو، فاعف عني


“Imam Ibrohim al-Harbi berkata: “Kuburan Ma’ruf al-Karkhi adalah obat yg mujarab”. Ini memaksudkan tekabulnya doa org2 yg berkeperluan di sisi kuburan tsb. Disebabkan sepotong tanah yang diberkahi, maka dikabulkan seluruh doa di atasnya. Doa juga mustajab pada saat sahur, di akhir sholat maktubaat (sholat 5 waktu), di masjid, dan bahkan doa org2 yg dalam keadaan darurat juga akan terkabul dimanapun berada.” (SiyarA’lam an-Nubala' lil Hafizh adz-Dzahabi, 9/24)

Secara umum mengenai ini, beliau berkata:


قلت : والدعاء مستجاب عند قبور الانبياء والاولياء و فى سائر البقاع لكن سبب الاجابة حضور الداعى و خشوعه وابتهاله و بلا ريب فى البقعة المباركة و فى المسجد و فى السحر و نحو ذلك يتحصل ذلك للداعى كثيرا و كل مضطر فدعاؤه مجاب

“Aku katakan: Berdoa di makam para nabi dan wali adalah mustajab, begitu pula tempat2 yg lain. Namun penyebab terkabulnya doa adalah ‘hadir’nya hati org yg berdoa dan kekhusyuannya. Tidak diragukan lagi, di tempat2 yg berkah, di masjid, saat sahur, dan sebagainya (juga terkabul). Hal itu jg akan banyak terkabul bagi org2 yg banyak berdoa. Dan setiap org yg dalam keadaan darurat, maka doanya juga akan terkabul.” (Siyar A’lam an-Nubala lil Hafizh adz-Dzahabi, 17/77)

  • Al-Imam al-Hafizh Tajuddin as-Subki (wafat 771 H). Ketika menyebutkan biografi 'Utsman bin Abdurrahman asy-Syahrozauri:


و قبره على الطريق في طرفها الغربي ظاهر يزار و يتبرك به قيل و الدعاء عند قبره مستجاب

“Makamnya ('Utsman bin Abdurrahman asy-Syahrozauri) berada di jalan sudut barat, begitu nampak, diziarahi, dan dicari berkahnya. Dan dikatakan bahwa berdoa di makam tsb adalah mustajab.” (Thobaqotus Syafi'iyyah al-Kubro li Tajiddin as-Subki, 6/68)

  • Imamul Qurro' (Imamnya para ahli qiro'ah), al-Imam al-Hafizh Ibnu al-Jazari (wafat 833 H). Beliau adalah pengarang kitab tajwid terkenal, Jazariyyah. Bukan hanya itu, beliau juga merupakan penghulunya para muhadditsin di zamannya. Ketika menyebutkan biografi dari Ibnul Mubarok, seorang ulama salaf terkenal, beliau katakan:
“Aku katakan: Ayah Ibnul Mubarok adalah seorang Turki, maula (pembantu) dr org kaya. Ibunya berkebangsaan Khowarizmiyyah. Ia lahir pada 118 H dan wafat pada bulan Romadlon tahun 181 H. Kuburnya ada di kota Haiti, terkenal diziarahi. Aku sudah menziarahinya dan bertabarruk dengannya.” (Ghoyatun Nihayah fi Thobaqotil Qurro’ li Ibnil Jazari, 1/399)

Ketika menjelaskan biografi al-Qosim bin Firoh, beliau berkata:


“Al-Qosim bin Firoh wafat pada 28 Jumadil Akhir tahun 590 H di Kairo. Ia dikuburkan di Qorofah antara Mesir dan Kairo, yaitu di sekitar makam al-Qodli al-Fadlil ‘Abdurrohim al-Baisani. Kuburnya masyhur dan menjadi tujuan ziarah. Aku sudah menziarahinya berkali2. Sebagian pengikut Syathibiyyah menunjukkan sesuatu padaku di makamnya. Dan ternyata aku melihat berkah doa di makam itu terkabul. Semoga Allah merahmati dan meridloinya.” (Ghoyatun Nihayah fi Thobaqotil Qurro’ lil Imam Ibnil Jazari, 2/22)

Ketika menyebutkan biografi dari Imam Syafi'i, beliau berkata:


“Imam Syafi’i wafat di Mesir tahun 204 H. Ia wafat di malam Jum’at setelah waktu Maghrib akhir pada bulan Rojab. Ia dimakamkan di hari Jum’at setelah Ashar. Kuburnya di Qorofah, Mesir, masyhur, dan berdoa di dekat makamnya adalah mustajab.” (Ghoyatun Nihayah fi Thobaqotil Qurro’ lil Imam Ibnil Jazari, 2/87)

  • Al-Hafizh Ibnu Qodli Syuhbah (wafat 851 H). Ketika menuturkan biografi dari Ibnu La’al, beliau berkata:
 
“Berdoa di dekat makam Ibnu La’al adalah mustajab. Ia wafat pada bulan Robi’ul Akhir tahun 398 H atau 399 H. Imam ar-Rof’i mengutip darinya sebuah qoul ...” (Thobaqotus Syafi’iyyah li Ibni Qodli Syuhbah, 1/138)
 
  • Amirul Mu’minin fil Hadits, al-Imam al-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqolani (wafat 852 H). Beliau berkata ketika menuturkan biografi Bakkar bin Qutaibah:


وَدُفِنَ بَكَّارُ بْنُ قُتَيْبَةَ بِطَرِيْقِ الْقَرَافَةِ، وَالدُّعَاءُ عِنْدَ قَبْرِهِ مُسْتَجَابٌ. وَمَاتَ يَوْمَ الْخَمِيْسِ لِخَمْسٍ بَقَيْنَ مِنْ ذِيْ الْحِجَّةِ سَنَةَ سَبْعِيْنَ وَمِائَتَيْنِ وَقَدْ قَارَبَ التِّسْعِيْنَ

“Bakkar bin Qutaibah dimakamkan di Jalan Qorofah. Berdoa di makamnya adalah mustajab. Ia wafat pada hari Kamis, di 5 hari tersisa dari bulan Dzul Hijjah tahun 270 H, usianya hampir 90 tahun.” (Rof’ul Ishri’ an Qudlotil Mishr lil Hafizh Ibni Hajar, 1/43)

  • Al-Imam al-Hafizh Badruddin al-’Aini (wafat 855 H). Ketika menerangkan hadits Bukhori nomor 1339, beliau berkata:


“Dan sudah masyhur bahwa makam Nabi Musa AS berada di Ariha dan terletak di kawasan tanah yg disucikan. Dikatakan bahwa itu adalah makamnya Nabi Musa yg di dekatnya terdapat gundukan tanah merah sebagaimana disebut dalam hadits dan thoriq. Berdoa di dekat makamnya adalah mustajab.” (‘Umdatul Qori syarah Shohih Bukhori lil Badriddin al-’Aini, 8/217)

  • Al-Hafizh as-Sakhowi (wafat 902 H), murid kesayangan Ibnu Hajar al-’Asqolani 

Makam Hamzah bin Abdul Muththolib:


·و جعل على قبره قبة فهو يزار ويتبرك به

“Makam Hamzah dibuatkan kubah di atasnya. Makamnya diziarahi dan dicari berkahnya.” (At-Tuhfatul Lathifah lil Hafizh as-Sakhowi, 1/205)

  • Al-Imam al-Khothib asy-Syarbini (wafat 977 H). Beliau beristikhoroh dan meminta petunjuk kepada Allah di sisi makam Imam Bukhori. Dan akhirnya Allah memberikannya petunjuk untuk mengarang sebuah kitab fiqih, yg ia namakan Mughnil Muhtaj ila Ma'ani Alfazh al-Minhaj. Hal ini ia ceritakan di muqoddimah kitab tsb. Silakan merujuknya.
  • Al-Imam Mulla 'Ali al-Qori (wafat 1014 H)


قبره (احمد بن حنبل) ظاهر ببغداد يزار و يتبرك به و كشف لما دفن بجنبه بعض الاشراف بعد موته بمائتين و ثلاثين سنة فوجد كفنه صحيحا لم يبل و جثته لم تتغير

“Makam Imam Ahmad bin Hanbal tampak nyata di Baghdad, diziarahi dan dicari berkahnya. Makam itu terbuka saat di sebelahnya dimakamkan sebagian kalangan org2 mulia setelah wafatnya Imam Ahmad selama 230 tahun. Kain kafannya ditemukan masih utuh, tidak rusak, dan jasadnya juga tidak berubah.” (Subhanallah !) (Mirqotul Mafatih lil Imam Mulla Ali al-Qori, 1/54)

  • Al-Imam asy-Syaukani (wafat 1250 H). Ketika sedang mensyarahi perkataan Imam Ibnu al-Jazari dalam kitab al-Hishn al-Hashin, asy-Syaukani berkata:


وجرب استجابة الدُّعَاء عِنْد قُبُور الصَّالِحين بِشُرُوط مَعْرُوفَة
(قَوْله وَعند قُبُور الْأَنْبِيَاء) أَقُول هَذَا جعله المُصَنّف رَحمَه الله دَاخِلا فِيمَا تقدم من التجريب الَّذِي ذكره وَوجه ذَلِك مزِيد الشّرف ونزول الْبركَة وَقد قدمنَا أَنَّهَا تسري بركَة الْمَكَان على الدَّاعِي كَمَا تسري بركَة الصَّالِحين الذَّاكِرِينَ الله سُبْحَانَهُ على من دخل فيهم مِمَّن لَيْسَ هُوَ مِنْهُم كَمَا يفِيدهُ قَوْله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم هم الْقَوْم لَا يشقى بهم جليسهم (قَوْله وجرب استجابة الدُّعَاء عِنْد قُبُور الصَّالِحين) أَقُول وَجه هَذَا مَا ذَكرْنَاهُ هَهُنَا وَفِيمَا تقدم وَلَكِن ذَلِك بِشَرْط أَن لَا تنشأ عَن ذَلِك مفْسدَة وَهِي أَن يعْتَقد فِي ذَلِك الْمَيِّت مَا لَا يجوز اعْتِقَاده كَمَا يَقع لكثير من المعتقدين فِي الْقُبُور فَإِنَّهُم قد يبلغون الغلو بِأَهْلِهَا إِلَى مَا هُوَ شرك بِاللَّه عز وَجل فينادونهم مَعَ الله وَيطْلبُونَ مِنْهُم مَا لَا يطْلب إِلَّا من الله عز وَجل وَهَذَا مَعْلُوم من أَحْوَال كثير من العاكفين على الْقُبُور خُصُوصا الْعَامَّة الَّذين لَا يَفْطنُون لدقائق الشّرك وَقد جمعت فِي ذَلِك رِسَالَة مطوله سميتها الدّرّ النضيد فِي إخلاص التَّوْحِيد جَوَاب عَن سُؤال بعض الْأَعْلَام


Telah dibuktikan kemustajaban doa di kubur org2 sholeh dengan syarat2 yg diketahui. Perkataannya (Imam Ibnu al-Jazari): “dan juga doa mustajab di kubur para Nabi”. Aku (asy-Syaukani) katakan: “Sang mushonnif (Imam Ibnu al-Jazari) rohimahullah menjadikan masalah ini BERDASARKAN PEMBUKTIAN. Bentuknya adalah bertambahnya kemuliaan dan turunnya keberkahan. Sungguh telah kami terangkan bahwa berkah makam tsb berdampak pada org yg berdoa seperti dampak berkah org2 sholeh yg berdzikir kepada Allah Ta’ala kepada org yg tidak sama dengan mereka (maksudnya kepada org yg tdk berzdikir), seperti sabda Nabi: “mereka adalah kaum yg tidak akan celaka karena org lain”. Perkataannya: “Telah dibuktikan kemustajaban doa di makam org2 sholeh”. Aku katakan: “Hal tsb sudah disebutkan pada bahasan yg dahulu. Akan tetapi, hal tsb dilakukan harus dg syarat tidak akan timbul mafsadah (kerusakan) yaitu meyakini mayit dg hal2 yg tidak boleh diyakini, seperti yg terjadi pada banyak org yg meyakini kuburan (secara berlebihan). Mereka terkadang berlebihan terhadap hal yg mengarah pada kesyirikan. Mereka memanggil (berdoa) kepada penghuni kubur besama Allah, mereka meminta sesuatu yg tdk bisa diminta kecuali kpd Allah. Hal ini sudah diketahui dari banyak pelaku yg menetap di kuburan, khususnya org2 awam yg tidak mengerti akan lembutnya syirik. Aku sudah mengumpulkan masalah ini dalam risalah yg panjang yg aku namakan “ad-Darrun Nadlid fi Ikhlashit Tauhid” yg merupakan jawaban terhadap pertanyaan dr sebagian org2 alim.” (Tuhfatudz Dzakirin bi 'Uddatil Hishn al-Hashin lil Imam asy-Syaukani, 1/74)

  • Syaikh al-Mubarokfuri (wafat 2006 M). Beliau sering dijadikan rujukan oleh org2 Wahabi. Tapi beliau sendiri tidak menafikan adanya barokah di kubur org sholeh:


و فيه حكمة اخرى و هو اجتماعهم في مكان واحد حياة و موتا و بعثا و حشرا و يتبرك الناس بالزيارة الى مشاهدهم و يكون وسيلة الى زيارة جبل احد

“Dalam masalah ini (dipindahnya jenazah syuhada'), ada hikmah lain, yaitu berkumpulnya para syuhada' di satu tempat, baik ketika hidup, mati, dan dibangkitkan di padang mahsyar. Org2 bisa bertabarruk dengan menziarahi makamnya, dan ini juga dapat menjadi media ziarah ke gunung Uhud.” (Tuhfatul Ahwadzi Syarah Sunan at-Tirmidzi lil Mubarokfuri, 4/406)


Bagaimana ? Sudah jelas bukan, bahwa makam sholihin (Anbiya', 'Ulama, dan Auliya') merupakan tempat banyaknya barokah dan mustajabnya doa ??
Pertanyaan: apakah semua 'ulama di atas dicap juga sebagai para penyembah kubur ??? Buka hati mu !!!

Pertanyaan: Kalian tahu siapa Ibnu Taimiyyah ? Ya,, dia adalah ulama abad 7 H yg dijadikan rujukan utama oleh org2 Wahabi. Bagaimana pandangannya terhadap tabarruk di makam org2 sholeh ? Berikut faktanya: 
Dalam penjelasannya tentang praktek menjadikan kuburan sebagai masjid, ia berkata:


وَكَذَلِكَ مَا يُذْكَرُ مِنَ الْكَرَامَاتِ وَخَوَارِقِ الْعَادَاتِ الَّتِي تُوْجَدُ عِنْدَ قُبُوْرِ الْأَنْبِيَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ مِثْلُ نُزُوْلِ الْأَنْوَارِ وَالْمَلآئِكَةِ عِنْدَهَا وَتَوَقِّي الشَّيَاطِيْنِ وَالْبَهَائِمِ لَهَا وَانْدِفَاعِ النَّارِ عَنْهَا وَعَمَّنْ جَاوَرَهَا وَشَفَاعَةِ بَعْضِهِمْ فِي جِيْرَانِهِ مِنَ الْمَوْتَى وَاسْتِحْبَابِ الْإِنْدِفَانِ عِنْدَ بَعْضِهِمْ وَحُصُوْلِ الْأُنْسِ وَالسَّكِيْنَةِ عِنْدَهَا وَنُزُوْلِ الْعَذَابِ بِمَنْ اِسْتَهَانَ بِهَا فَجِنْسُ هَذَا حَقٌّ لَيْسَ مِمَّا نَحْنُ فِيْهِ

“Demikian pula kejadian yang disebutkan, tentang karomah dan hal-hal luar biasa yang terjadi di kuburan para nabi dan orang-orang sholih seperti turunnya cahaya dan malaikat di kuburan tersebut, syetan dan binatang menjauhi tempat itu, api terhalang untuk membakar kuburan dan orang yang berada di dekatnya, sebagian dari para nabi dan orang-orang sholih memberi syafa'at kepada orang-orang mati yang menjadi tetangga kubur mereka, kesunnahan mengubur jenazah di dekat kuburan mereka, memperoleh kedamaian dan ketenteraman saat berada di dekatnya, dan turunnya adzab atas orang yang menghina kuburan tersebut, maka hal-hal ini adalah BENAR ADANYA DAN TIDAK TERMASUK DALAM TOPIK BAHASAN KAMI tentang diharamkannya menjadikan kuburan sebagai masjid.” (Iqtidho’us Shirothil Mustaqim li Ibni Taimiyyah, 1/374)

Pertanyaan: apakah Ibnu Taimiyyah juga akan kalian cap sebagai penyembah kubur ???????????????????????????


Dengan adanya semua fakta ini, menjadi jelas bahwa makam sholihin (Anbiya', 'Ulama, dan Auliya') merupakan tempat yg istimewa, tempat banyaknya barokah, dan tempat mustajabnya doa.

Alhamdulillah . . .
Note ini ditulis dg tujuan supaya ummat Islam menjadi sadar dan mengerti bahwa tabarruk (ngalap berkah) dan berdoa di makam org2 sholeh adalah perkara yg disyari'atkan. Maka sudah benar lah apa yg dilakukan kaum Muslimin di Indonesia yg gemar melakukan ziarah ke makam Wali Songo. Ayo ziarah ... !!

Semoga setelah ini tdk ada lagi org2 yg menuduh syirik secara serampangan kepada para penggemar ziarah makam wali dan org sholeh... Aamiin.
Semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk kebenaran kepada qta semua, Aamiin.
Semoga ummat Islam semakin bersatu padu,, Aamiin . . .

Manfaat Ziarah Kubur


MENGINGAT MATI ?


إِنِّي كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمْ الْآخِرَةَ 
Dulu aku melarang kalian ziarah kubur. Sekarang, kunjungilah karena mengingatkan kalian kepada akhirat [HR. Muslim, an-Nasâi, dan Ahmad]

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَلَاحِقُونَ أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ
“Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni kubur, dari (golongan) orang-orang beriman dan orang-orang Islam, semoga Allah merahmati orang-orang yang mendahului kami dan orang-orang yang datang belakangan. Kami insya Allah akan menyusul kalian, saya meminta keselamatan untuk kami dan kalian.”

Muqaddimah:

Di negeri ini, terutama di pulau Jawa, sudah jamak orang-orang melakukan ziarah ke makam Ulama (misal, Wali songo). Dengan koordinasi seseorang yang ditokohkan, merekapun berangkat menuju makam-makam itu. Jarak yang jauh dan persiapan bekal yang banyak, tidak menjadi soal bagi para peziarah. Sebab dengan 'perjalanan spiritual' ini akan banyak manfaat yang dapat mereka peroleh. Sebelum berangkat, para peziarah ini mempunyai tujuan tertentu. Mereka berharap semua tujuannya tercapai setelah menjalani perjalanan spiritual ke makam-makam orang yang dianggap wali atau makam Ulama karismatis, tidak peduli siapa dia. Inilah cuplikan apa yang terjadi di sekitar kita. Apakah yang seperti ini dibenarkan oleh syariat Islam?.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Ustazah Mamah Dedeh mengatakan, seringkali terjadi kesalahan niat di antara yang melakukan ziarah kubur. Seperti ziarah ke makam para wali Allah atau tokoh agama, Mamah Dedeh mengatakan, salah bila niatnya untuk meminta sesuatu dari makam yang diziarahi tersebut.
"Ziarah tidak dilarang, asal niat dan tujuannya bukan untuk minta sesuatu, melainkan agar bisa memetik pelajaran," kata Mamah Dedeh di Jakarta, belum lama ini.
Maka dilanjutkan Mamah, adapun ziarah dibolehkan bia niatnya sebatas untuk memetik hikmah dan pelajaran dari orang soleh yang diziarahi tersebut. Mamah sekaligus menyayangkan bila umumnya orang berziarah ke tempat-tempat yang jauh namun kuburan saudaranya yang dekat sendiri jarang ditengok sama sekali.
"Ziarah ke Banten, Demak, Cirebon, tapi kuburan nenek sendiri tidak pernah ditengokin, yang seperti itu salah tahu," lanjut Mamah.
Tujuan Berziarah

Ziarah kubur memiliki dua tujuan, yaitu :

Pertama, penziarah mengambil manfaat dengan mengingat mati dan orang yang mati. Dan tempat mereka ke Surga atau ke neraka.

Kedua, si mayit mendapat kebaikan dengan perbuatan baik dan salam untuknya serta mendapat doa  permohonan ampunan. Dan ini khusus untuk mayat yang Muslim. (Ahkamul Janaiz halaman 239)


Hikmah Ziarah
Pengagungan manusia dan perbuatan syirik di mana pun bertentangan dengan Islam yang berlandaskan tauhid. Begitu pula dalam ibadah yang bernama ziarah kubur ini. Syariat telah menentukan hikmah dari anjuran berziarah kubur, yaitu:

1. Mengingatkan hamba kepada akhirat dan memberi pelajaran berharga baginya akan kehancuran dunia dan kefanaannya. Sehingga jika ia kembali dari makam, timbul rasa takut kepada Allah Azza wa Jalla yang bertambah, dan kemudian memikirkan akhirat dan beramal untuk itu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنِّي كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمْ الْآخِرَةَ 
Dulu aku melarang kalian ziarah kubur. Sekarang, kunjungilah karena mengingatkan kalian kepada akhirat [HR. Muslim, an-Nasâi, dan Ahmad] 

2. Mendoakan kebaikan bagi mayit dan memohonkan ampunan bagi mereka. Ini merupakan bentuk perbuatan baik orang yang masih hidup kepada orang yang telah mati. Amalannya telah putus begitu ia menghembuskan nafas terakhirnya meninggalkan dunia menuju akhirat. Oleh sebab itu, ia sangat membutuhkan orang-orang yang berbaik hati mau mendoakan kebaikan dan ampunan baginya, serta menjadikannya penghuni surga.
Secara eksplisit, doa yang dilantunkan peziarah kubur sebelum memasuki makam menjadi dasar hikmah kedua ini. Ditambah dengan riwayat bahwa ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma menceritakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pergi di malam hari ke (kompleks makam) Baqi'. 'Aisyah Radhiyallahu anhuma menanyakan alasan kepergian beliau. Beliau menjawab:

إِنِّيْ أُمِرْتُ أَنْ أَدْعُوَ لَهُمْ 
Aku diperintah untuk mendoakan mereka [1]. Hadits riwayat Ahmad. Al-Albâni t berkata: "Shahîh sesuai riwayat Bukhâri dan Muslim" (Musnad 6/252). Lihat pula Shahîh Muslim no. 974

3. Pada tata cara berziarah, bagi yang mengikuti petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , berarti ia telah berbuat baik kepada dirinya sendiri. Sebaliknya, orang-orang yang melakukan perbuatan macam-macam dalam berziarah, mereka telah menjerumuskan diri ke dalam jurang kesesatan.
Ibnul Qayyim rahimahullah menyampaikan hikmah ketiga ini dengan mengatakan: "(Hikmah ziarah kubur) pengunjung berbuat baik kepada dirinya sendiri dengan mengikuti petunjuk Sunnah dan melangkah sesuai dengan ketentuan aturan yang disyariatkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Jadi, ia telah berbuat baik kepada diri sendiri dan orang (penghuni kubur) yang ia kunjungi". [2]. Ighâtsatul Laghfân (1/337) Nukilan dari Taqdîsul Asykhâs 2/116
Hikmah ini banyak dilupakan oleh para penulis tentang masalah ziarah kubur. Sebagaimana dalam setiap pelaksanaan ta'abbud mesti berlandaskan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , demikian pula dalam pelaksanaan ziarah kubur. Di masa kini, panduan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai ziarah kubur telah terabaikan. Akibatnya, di kebanyakan negeri Islam, kuburan telah beralih fungsi menjadi sumber praktek syirik dan maksiat lainnya.[3]. Lihat Taqdîsul Asykhâs (2/116)

4.Ziarah kubur dapat melembutkan hati. Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang lain:    “Dulu aku pernah melarang kalian untuk berziarah-kubur. Namun sekarang ketahuilah, hendaknya kalian berziarah kubur. Karena ia dapat melembutkan hati, membuat air mata berlinang, dan mengingatkan kalian akan akhirat namun jangan kalian mengatakan perkataan yang tidak layak (qaulul hujr), ketika berziarah” (HR. Al Haakim no.1393, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jaami’, 7584)

5.Ziarah kubur dapat membuat hati tidak terpaut kepada dunia dan zuhud terhadap gemerlap dunia. Dalam riwayat lain hadits ini disebutkan: “Dulu aku pernah melarang kalian untuk berziarah-kubur. Namun sekarang ketahuilah, hendaknya kalian berziarah kubur. Karena ia dapat membuat kalian zuhud terhadap dunia dan mengingatkan kalian akan akhirat” (HR. Al Haakim no.1387, didhaifkan Al Albani dalam Dha’if Al Jaami’, 4279)

6.Al Munawi berkata: “Tidak ada obat yang paling bermanfaat bagi hati yang kelam selain berziarah kubur. Dengan berziarah kubur, lalu mengingat kematian, akan menghalangi seseorang dari maksiat, melembutkan hatinya yang kelam, mengusir kesenangan terhadap dunia, membuat musibah yang kita alami terasa ringan. Ziarah kubur itu sangat dahsyat pengaruhnya untuk mencegah hitamnya hati dan mengubur sebab-sebab datangnya dosa. Tidak ada amalan yang sedahsyat ini pengaruhnya” (Faidhul Qaadir, 88/4)

Sabtu, 29 April 2017

Tujuh Hikmah Ziarah Auliyaaulloh



Tujuh Manfaat Ziarah Wali
Sunan Ampel adalah orang yang pertama kali melakukan ziarah ke makam para wali. Yaitu makam kakek dan ayahnya,kemudian makam pamannya. Dalam berziarah,beliau mengajak murid-muridnya. Setelah berziarah beliau menjelaskan manfaat-manfaat ziarah,yaitu ada tujuh manfaat.Bagaimana nasihatnya?
ZIARAH wali telah lama di lakukan umat Islam khususnya di tanah Jawa dan umumnya di Indonesia. Pertama kali ziarah dilakukan di makam Syekh Jumadil Kubro, yang berada di troloyo, Trowulan, Mojokerto, dan makam Syekh Maulana Malik Ibrahim di Gresik.
Orang yang pertama kali melakukan ziarah adalah Sunan Ampel yang waktu itu masih tinggal di Bangil. Tiap ziarah di lakukan pada waktu menjelang Ramadan. Ziarah ini dilakukan tiap tahun. Untuk menuju ke dua makam tersebut, yaitu Syekh Jumadil Kubro dan ayahandanya, Asmaraqandi, Sunan Ampel menggunakan kereta bendi yang ditarik kuda.
Ketika berziarah ke makam kakek dan ayahnya, Sunan Ampel disertai murid-muridnya. Jumlahnya mencapai ratusan orang. Usai melakukan ziarah, beliau menjelaskan manfaatnya. Murid-muridnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh sambil menundukkan kepalanya di areal makam.
Sepeninggal Sunan Ampel, murid-muridnya melanjutkan ziarah ke makam-makam para wali yang lebih dahulu meninggaldunia. Ziarah murid-murid Sunan Ampel itu kemudian hari dilanjutkan oleh ummat Islam sekarang ini.
DAWUH SUNAN AMPEL
Di antara manfaat ziarah yang disampaikan oleh Sunan Ampel adalah, pertama, ziarah akan menjadikan seseorang mengenal kematian. Sehingga semasa hidupnya akan selalu ingat kepada Allah dan tidak akan menjalankan maksiat serta berprilaku sombong di muka bumi. Karena pada akhirnya manusia itu tidak berdaya setelah menghadapi maut.
Kedua, sebagai pelajaran sejarah . yaitu meneladani apa yang telah dilakukan para wali dalam menjalankan ibadah kepada Allah dan menyebarkan ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat yang masih beragama Hindu dan Buddha. Waktu itu Jawa dalam kekuasaan Kerajaan Majapahit.
Ketiga, do’a di sekitar makam orang-orang saleh atau wali itu memiliki nilai mustajabah atau mudah dikabulkan oleh Allah. Praktik do’a di makam para wali ini pernah dilakukan oleh Syekh Abdulqadir Zaelani, Syekh Jalaluddin Rumi, dan para sufi di masa lampau. Ruh para waliyullah sesungguhnya diberi keistimewaan oleh Allah sehingga bisa pergi kemana-mana, termasuk berwujud manusia sempurna pada suatu waktu. Jga ikut mendo'akan dan mengamini do'a orang-orang yang bertawasul kepadanya.
Keempat, memberikan ketenangan hati ketika berada di makam para wali saat berzikir. Sudah ribuan orang merasakan ada ketentraman hati saat berzikir di sekitar makam wali songo. Oleh karena itu, banyak orang yang hampir tiap tahun selalu berziarah ke makam waliullah untuk menenteramkan hati.
Kelima, membangkitkan semangat untuk semakin meningkatkan ketakwaan kepada ALLAH. Cukup banyak orang yang hidupnya penuh dengan dosa. Namun setelah sering berziarah di makam, perilakunya berubah dan menjadi orang yang baik.
Keenam, untuk masa sekarang, manfaat ziarah ke makam wali songo, pertama untuk latihan sebelun keberangkatan ziarah ke tanah suci Makkah dan Madinah. Sehingga nantinya ketika menunaikan ibadah haji atau umrah bisa khusuk dan khidmat.
Ketujuh, meningkatkan spiritual. Sehingga tidak akan mengalami kekeringan rohani dalam menjalani kehidupan yang semakin kompleks. Kemudia hidup semakin ceria untuk menatap masa depan yang penuh dengan optimisme.